Literasi Spenduga Membaca Rabu, 14 Januari 2026 (Wangi Melati di Sudut Sekolah)
Wangi Melati di Sudut Sekolah
Bagi kebanyakan murid, toilet sekolah adalah tempat yang ingin mereka tinggalkan secepat mungkin. Bau pesing yang tajam, lantai yang becek, dan coretan tidak rapi di pintu kayu seringkali membuat siapa pun enggan berlama-lama di sana. Namun, tidak bagi Abdullah.
Setiap jam istirahat kedua, saat teman-temannya sibuk mengantre cilok di kantin atau bermain basket di lapangan, Abdullah justru menghilang. Ia tidak ke perpustakaan, juga tidak ke ruang guru. Ia berada di toilet laki-laki paling pojok di lantai dua.
Tanpa ada yang menyuruh, Abdullah akan menggulung seragam putihnya hingga siku. Ia mengambil sikat plastik kuning yang sudah mulai botak dan sebotol pembersih lantai yang ia beli dari uang sakunya sendiri.
- Langkah pertama: Ia menyiram lantai dengan air, memastikan tidak ada sisa tanah dari sepatu bola teman-temannya.
- Langkah kedua: Ia menyikat sela-sela keramik hingga kerak kuningnya luntur.
- Langkah ketiga: Ia menyemprotkan pengharum ruangan aroma melati yang lembut.
"Abdul, kamu ngapain sih? Kurang kerjaan banget," tegur Budi, teman sekelasnya yang kebetulan masuk ke toilet. Budi menutup hidung, heran melihat Abdullah berkeringat di depan wastafel.
Abdullah hanya tersenyum tipis sambil mengelap cermin yang buram. "Cuma risih aja, Bud. Kalau bersih kan kita juga yang nyaman."
"Tapi kan itu tugas Pak Udin, penjaga sekolah," balas Budi sambil berlalu.
Abdullah tidak mendebat. Ia tahu Pak Udin sudah tua dan harus mengurus seluruh area sekolah yang luas sendirian. Membantu membersihkan satu toilet bukanlah hal berat baginya.
Lambat laun, suasana di toilet lantai dua berubah. Murid-murid mulai menyadari bahwa toilet itu tidak lagi berbau pesing. Lantainya selalu kering, dan cerminnya mengkilap tanpa noda. Bahkan, ada vas bunga kecil berisi plastik yang diletakkan Abdullah di atas tangki air.
Suatu hari, Kepala Sekolah, Bu Ratna, mengadakan inspeksi mendadak. Beliau tertegun saat memasuki toilet lantai dua. Alih-alih bau amonia yang biasanya menyengat, ia mencium aroma melati yang segar.
"Siapa yang membersihkan tempat ini? Pak Udin?" tanya Bu Ratna pada ajudannya.
Pak Udin, yang dipanggil menghadap, menggeleng jujur. "Bukan saya, Bu. Ada satu anak kelas XI, namanya Abdullah. Dia setiap hari di sini tanpa saya minta.
Hari Senin saat upacara bendera, suasana riuh tiba-tiba hening ketika Bu Ratna menyebutkan sebuah nama yang tidak disangka-sangka.
"Saya ingin memberikan penghargaan kepada seorang murid. Bukan karena nilai matematikanya yang seratus, atau piala basketnya, tapi karena ketulusannya menjaga kehormatan sekolah kita dari tempat yang paling sering dilupakan," ujar Bu Ratna.
Abdullah gemetar saat namanya dipanggil ke depan. Teman-temannya berbisik, ada yang tertawa kecil menyebutnya "Pahlawan Toilet", namun lebih banyak yang bertepuk tangan dengan tulus.
Bu Ratna memberikan sebuah sertifikat dan beasiswa kecil. Namun bagi Abdulah, penghargaan terbesar bukanlah itu. Penghargaan terbesar adalah saat ia kembali ke toilet setelah upacara dan melihat sebuah tulisan kecil tertempel di pintu:
"Terima kasih sudah menjaga toilet ini tetap bersih. Mari kita jaga bersama."
Sejak hari itu, Abdullah tidak lagi membersihkan toilet sendirian. Beberapa siswa mulai ikut membantu, dan tak ada lagi yang berani membuang sampah sembarangan di sana. Karena bagi mereka, kebersihan bukan lagi sekadar tugas, tapi sebuah rasa hormat pada diri sendiri.
Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar!
- Apa tema ceritanya?
- Siapa tokoh dan bagaimana watak tokoh yang ada pada cerita?
- Dimana latar ceritanya?
- Menggunakan alur apa? Jelaskan!
- Apa amanat yang terdapat dalam cerita tersebut?
- Apa yang bisa kalian contoh dalam kehidupan sehari-hari dari cerita tersebut?
SMP NEGERI 23 BALIKPAPAN