Literasi Spenduga Membaca Rabu, 15 April 2026 (Cahaya di Beranda Tua)
Cahaya di Beranda Tua
Sore itu, langit di atas desa sedang ranum-ranumnya, berwarna jingga keunguan. Aris baru saja pulang dari pasar dengan dua kantong plastik di tangannya. Satu berisi beras, dan satu lagi berisi obat-obatan untuk Ayahnya.
Sejak lulus kuliah dua tahun lalu, Aris memilih kembali ke kampung halaman. Banyak teman seangkatannya yang mengejar karier di Jakarta, namun Aris memiliki "karier" lain yang menurutnya jauh lebih mendesak: merawat Ibunya yang mulai pikun dan Ayahnya yang kakinya lumpuh akibat stroke.
"Bu, Aris pulang," sapanya lembut saat memasuki pintu dapur.
Ibu sedang duduk menatap kompor yang mati. Beliau tersenyum, meski tatapannya sedikit kosong. "Bapakmu sudah lapar, Ris. Tadi dia cari kamu."
Aris mengangguk tenang. Ia segera mencuci tangan, lalu mulai meracik bubur halus untuk Ayahnya. Tak ada gurat lelah di wajahnya, padahal pagi tadi ia baru saja menyelesaikan pekerjaan lepasnya sebagai penerjemah dokumen hingga subuh.
Di kamar, Aris menyuapi Ayahnya dengan sabar. "Pelan-pelan, Bah. Masih hangat," bisiknya. Setiap kali butiran nasi jatuh ke dagu sang Ayah, Aris mengusapnya dengan handuk kecil dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah sedang menyentuh barang pecah belah yang paling berharga di dunia.
Setelah Ayah terlelap, Aris beralih ke Ibu. Ia memijat kaki Ibunya yang sering linu sambil mendengarkan cerita yang sama untuk keseribu kalinya—cerita tentang betapa lucunya Aris saat balita dulu. Aris tidak memotong pembicaraan itu, ia justru tertawa di bagian yang sama, memberikan reaksi yang sama hangatnya seperti pertama kali mendengar cerita itu.
Suatu malam, seorang teman lamanya menelepon, menanyakan apakah Aris tidak merasa "terjebak" di desa dengan segala potensinya. Aris terdiam sejenak, menatap kedua orang tuanya yang tertidur lelap di bawah temaram lampu ruang tengah.
"Aku tidak terjebak," jawab Aris pelan. "Dulu, mereka adalah seluruh dunia bagiku saat aku tidak bisa apa-apa. Sekarang, saat dunia mereka mulai mengecil, giliranku menjadi dunia bagi mereka. Kesempatan berbakti ini adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan gaji setinggi apa pun di kota."
Aris menutup teleponnya, lalu menyelimuti Ibu yang tertidur di kursi kayu. Baginya, kebahagiaan bukan lagi soal pencapaian besar di luar sana, melainkan doa-doa tulus yang dibisikan orang tuanya di setiap sujud mereka. Di beranda tua itu, Aris menemukan cahayanya sendiri.
Lakukanlah tugas berikut sesuai perintahnya!
- Sebutkan empat perilaku baik yang dapat kalian contoh dari cerita tersebut dalam kehidupan sehari-hari!
- Berikan kesimpulan dari cerita tersebut!
SMP NEGERI 23 BALIKPAPAN