Literasi Spenduga Membaca Rabu, 29 April 2026 (Langkah Pertama di Tanah Keras)
Langkah Pertama di Tanah Keras
Siang itu, matahari terasa membakar kulit. Maya berdiri di lahan belakang sambil memegang cangkul kecil. Di sampingnya, ada Rian dan Sarah, dua anggota setia yang tersisa.
"May, yakin kita bisa mengubah tempat ini? Tanahnya keras sekali," keluh Rian sambil menyeka keringat.
Maya berjongkok, menyentuh tanah yang pecah-pecah itu. "Tanah ini cuma butuh nutrisi dan kasih sayang, Yan. Kalau kita berhasil di sini, kita membuktikan kalau Adiwiyata bukan cuma soal sapu-sapu di koridor.
Minggu demi minggu berlalu. Maya dan timnya melakukan hal-hal yang dianggap aneh oleh siswa lain:
- Mengolah Kompos: Mereka mengumpulkan sisa sayuran dari kantin dan dedaunan kering untuk dijadikan pupuk alami.
- Lubang Biopori: Mereka melubangi tanah agar air hujan tidak terbuang percuma dan tanah menjadi gembur.
- Pembibitan: Maya membawa bibit pohon pelindung dan tanaman obat dari rumahnya.
Awalnya, banyak yang mencibir. "Mau jadi petani, May?" tanya seorang siswa saat melihat Maya berlumuran tanah. Maya hanya tersenyum tipis. "Bukan petani, cuma lagi memastikan kita tetap bisa bernapas segar sepuluh tahun lagi.
Perubahan itu mulai terlihat. Lahan yang dulunya gersang kini mulai tertutup hamparan rumput gajah mini. Pohon ketapang kencana yang mereka tanam mulai tumbuh setinggi satu meter, memberikan bayangan yang menyejukkan.
Suatu hari, saat jam istirahat yang sangat panas, beberapa siswa yang biasanya nongkrong di depan kelas mulai berpindah ke lahan belakang sekolah. Mereka duduk di bawah pohon yang ditanam Maya, merasa nyaman karena udaranya lebih sejuk.
"Ternyata asik juga ya di sini. Makasih ya, Maya!" seru salah satu siswa yang dulu sering mengejeknya.
Puncaknya adalah saat sekolah mereka kedatangan tim penilai Adiwiyata tingkat provinsi. Maya tidak butuh pidato panjang lebar. Ia hanya mengajak tim penilai ke lahan belakang.
Ia menunjukkan sistem irigasi tetes sederhana yang ia buat dari botol plastik bekas dan menjelaskan bagaimana mereka berhasil menekan sampah plastik kantin hingga 40% melalui kampanye membawa tumbler.
Sekolah mereka menang. Tapi bagi Maya, piala bukan tujuan utamanya
Sore itu, Maya duduk sendirian di bangku taman yang baru saja dipasang di lahan tersebut. Ia melihat seekor kupu-kupu hinggap di bunga krisan yang ia tanam bulan lalu.
Ia menyadari sesuatu yang penting:
- Kepemimpinan: Ia belajar memimpin bukan dengan perintah, tapi dengan memberi contoh.
- Ketangguhan: Ia belajar bahwa perubahan besar dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
- Koneksi: Ia merasa lebih dekat dengan alam, sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan dari layar ponselnya.
Maya menarik napas dalam-dalam. Udara di sekolahnya kini terasa berbeda—lebih ringan, lebih bersih, dan lebih hidup. Dan ia tahu, cintanya pada Adiwiyata telah berakar sedalam pohon-pohon yang ia tanam.
Lakukanlah tugas berikut sesuai perintahnya!
- Sebutkan empat (4) perilaku baik yang dapat kalian contoh dari cerita tersebut dalam kehidupan sehari-hari!
- Berikan kesimpulan dari cerita tersebut!
Share to :
SMP NEGERI 23 BALIKPAPAN