Literasi Spenduga Membaca (Derap Langkah di Bawah Terik)
Derap Langkah di Bawah Terik
Matahari sore memancar terik di atas lapangan semen sekolah, tetapi Dimas belum juga beranjak. Dengan sepatu kets yang sudah agak menipis solnya, ia berdiri tegak, merapatkan kedua tumit, dan membentuk sudut соdok 45 derajat.
"Satu... dua... tiga... jalan!" bisiknya pada diri sendiri.
Dimas menghentakkan kaki kanannya. Sayang, langkahnya masih terdengar ragu. Tangan kirinya melambung terlalu tinggi, sementara tangan kanannya terlambat diayun. Ia menghela napas panjang, mengusap keringat yang menetes di dahi, lalu mengulanginya lagi dari garis awal.
Tiga hari lalu, ketika Pak Jaka—guru Pembina OSIS—membuka pendaftaran untuk petugas upacara hari Senin depan, Dimas langsung mengacungkan tangan. Ia mengajukan diri sebagai pengerek bendera. Namun, keraguan terlihat jelas di wajah teman-temannya. Maklum saja, Dimas terkenal sebagai anak yang pemalu, sering gugup jika tampil di depan umum, dan terkadang agak canggung dalam bergerak.
"Dimas, pengerek bendera itu tanggung jawabnya besar. Ritme tarikan tali harus pas dengan lagu Indonesia Raya. Kalau salah tempo, benderanya bisa sampai di puncak sebelum lagunya selesai," ujar Pak Jaka penuh pertimbangan.
"Saya paham, Pak. Beri saya kesempatan untuk latihan. Saya janji akan berusaha sebaik mungkin," jawab Dimas mantap saat itu.
Sejak hari itu, lapangan sekolah menjadi tempat 'sahabat' baru bagi Dimas. Setiap bel pulang berbunyi, ketika murid-murid lain berhamburan menuju gerbang atau tempat jajan, Dimas berjalan menuju tiang bendera.
Ia meminjam tali tambang kecil dari ruang pramuka untuk melatih kepekaan tangannya. Ia mengikatkan beban kecil di ujung tali, lalu menariknya perlahan seirama dengan alunan lagu Indonesia Raya yang ia putar lewat ponselnya.
“Satu tarikan penuh di setiap ketukan nada... jangan terburu-buru, fokus pada irama,” ulang Dimas dalam hati, mengingat pesan seniornya.
Tidak jarang, tangannya memerah dan lecet karena gesekan tali. Langkah kakinya dalam Peraturan Baris Berbaris (PBB) pun sempat dikritik karena masih kaku. Namun, kekurangannya itu tidak membuat Dimas patah semangat. Jika melangkah seratus kali belum cukup, ia akan melangkah seribu kali hingga derap kakinya mantap dan seirama.
Hari Senin yang dinanti pun tiba.
Seluruh siswa dan guru telah berbaris rapi di lapangan. Angin pagi berhembus dingin, menambah ketegangan yang menyelimuti dada Dimas. Mengenakan seragam putih-putih lengkap dengan peci dan sarung tangan kain, ia berdiri di barisan kelompok pengibar bendera.
"Pasukan... siap, grak!" aba-aba Komandan Upacara menggema.
Dimas menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan, lalu memfokuskan pikirannya. Rasa gugup yang biasanya menguasai dirinya mendadak sirna, tergantikan oleh ingatan akan latihan kerasnya selama seminggu terakhir.
"Maju... jalan!"
Derap langkah kaki Dimas dan dua temannya terdengar kompak dan mantap. Tuk, tuk, tuk. Suara ketukan sepatu di atas lantai semen terdengar begitu tegas dan percaya diri.
Saat tiba di bawah tiang, jemari Dimas bergerak cekatan namun tenang. Ia mengikatkan kait bendera ke tali dengan simpul yang kuat. Ketika lagu Indonesia Raya mulai berkumandang, Dimas menarik tali bendera perlahan. Sang Merah Putih berkibar lembut, membentang gagah, lalu perlahan naik perlahan-lahan mengikuti alunan bait demi bait lagu nasional.
Daaaa... lam kepanduan bangsa...
Tepat saat nada terakhir lagu selesai dinyanyikan, bendera Merah Putih telah sampai di puncak tiang dan terkunci sempurna.
Dimas mundur satu langkah, mengangkat tangan kanannya ke tepi peci, dan memberikan penghormatan paling khidmat yang pernah ia lakukan dalam hidupnya. Dari barisan guru, Pak Jaka tersenyum bangga sambil mengangguk pelan.
Hari itu, Dimas tidak hanya berhasil mengibarkan bendera Sang Merah Putih hingga ke puncak tiang, tetapi ia juga telah berhasil mengibarkan rasa percaya dirinya melewati batas ketakutan yang selama ini mengurungnya.
Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar!
- Siapakah tokoh utama dalam cerita tersebut dan apa sifat yang paling menonjol dari dirinya?
- Posisi petugas upacara apa yang dipilih oleh Dimas? Mengapa Pak Jaka sempat merasa ragu terhadap pilihan Dimas tersebut?
- Usaha dan pengorbanan apa saja yang dilakukan Dimas saat berlatih untuk menjadi pengerek bendera?
- Bagaimana perasaan Dimas saat hari Senin (hari pelaksanaan upacara) tiba, dan bagaimana ia mengatasinya?
- Apa pesan moral atau amanat yang dapat dipetik dari cerpen di atas?
Share to :
SMP NEGERI 23 BALIKPAPAN