Literasi Spenduga Membaca (Keberkahan Tangan di Atas) Rabu, 12 Agustus 2026
Keberkahan Tangan di Atas
Di sudut lorong SMA Nusantara, Fajar selalu dikenal sebagai siswa yang tidak banyak tingkah. Penampilannya sederhana, tasnya sudah agak pudar warnanya, dan sepatu hitamnya memiliki bekas jahitan tangan di bagian pinggir. Namun, jika ada satu hal yang membuat Fajar diingat oleh banyak orang di sekolah, itu adalah kebiasaannya yang tak pernah alpa: bersedekah.
Bagi Fajar, sedekah bukan soal menunggu kaya atau punya uang berlebih. Sejak kecil, almarhum ayahnya selalu berpesan bahwa kebaikan tidak akan pernah mengurangi rizki seseorang, melainkan memperluasnya. Oleh karena itu, dari uang saku sepuluh ribu rupiah yang diberikan ibunya setiap hari, Fajar selalu menyisihkan dua hingga tiga ribu rupiah untuk dimasukkan ke dalam kotak amal masjid sekolah setiap kali sholat Duha.
Tidak hanya uang, Fajar mengartikan sedekah dalam bentuk yang jauh lebih luas. Setiap pagi sebelum bel masuk berbunyi, ia dengan senang hati mengajari teman-temannya yang kesulitan memahami materi matematika atau fisika tanpa meminta imbalan apa pun. Ia juga sering membagikan bekal kue buatan ibunya kepada petugas kebersihan sekolah yang bekerja keras merawat halaman.
"Jar, kamu kok rajin banget sih bagi-bagi? Padahal uang sakumu kan juga pas-pasan," tanya Rian suatu sore saat mereka piket kelas bersama.
Fajar tersenyum tenang sambil menyapu lantai. "Sedekah itu bukan tentang seberapa besar yang kita punya, Yan, tapi seberapa ikhlas kita berbagi. Lagipula, senyum dan ilmu juga sedekah, kan?"
Ujian keikhlasan Fajar datang menjelang ujian akhir semester. Saat itu, sekolah mengadakan penggalangan dana darurat untuk biaya pengobatan seorang siswa yang mengalami kecelakaan berat. Uang kas kelas Fajar masih kurang, sementara waktu pengumpulan tinggal tersisa satu hari lagi.
Tanpa ragu, Fajar merogoh celananya dan mengeluarkan celengan bambu kecil yang sudah ia tabung dari sisa uang saku dan hasil menjual kerajinan tangan selama beberapa bulan. Celengan itu rencananya ingin ia gunakan untuk membeli sepatu baru yang tidak berlubang. Namun, baginya, keselamatan teman satu sekolahnya jauh lebih mendesak.
Tindakan Fajar menginspirasi teman-teman sekelasnya. Rian dan siswa lainnya yang awalnya enggan, menjadi tergerak untuk ikut menyisihkan sisa uang jajan mereka hingga target dana kelas akhirnya terpenuhi.
Beberapa hari kemudian, kebaikan yang ditanam Fajar berbuah manis tanpa ia duga. Saat pengumuman kelulusan dan penghargaan siswa berprestasi, Fajar dipanggil ke depan podium. Bukan hanya karena nilai akademiknya yang gemilang, tetapi juga atas dedikasi dan budi pekertinya yang tinggi. Pihak sekolah bersama Komite Alumni memberikannya beasiswa penuh untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi impiannya, lengkap dengan seperangkat perlengkapan sekolah baru.
Fajar menunduk penuh syukur. Ia membuktikan sendiri bahwa tangan di atas akan selalu membawa keberkahan, dan sedekah yang ditanam dengan keikhlasan tidak akan pernah sia-sia.
Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar!
- Siapa tokoh dan bagaimana watak tokoh yang ada pada cerita?
- Jelakan latar tempat, waktu dan suasana pada cerita tersebut!
- Apa amanat yang terdapat dalam cerita tersebut?
- Apa yang bisa kalian contoh dalam kehidupan sehari-hari dari cerita tersebut?
Jangan lupa ikuti Sosial Media dari SMP Negeri 23 Balikpapan kita ya, warga Spenduga HEBAT...
Bisa kalian follow dan like Sosial Media, kita di bawah ini :
Website : www.smpnegeri23balikpapan.sch.id
Instagram : @smpn23_bpn
Tiktok : smpn23_balikpapan
Share to :
SMP NEGERI 23 BALIKPAPAN