#SPENDUGAHEBAT

Berita

Kalender Pendidikan SMPN 23 Balikpapan
Media Sosial

Literasi Spenduga Membaca (Kebaikan Kecil, Dampak yang Besar) Rabu 29 Juli 2026

Kebaikan Kecil, Dampak yang Besar

Hujan gerimis baru saja mereda, meninggalkan aroma tanah basah dan genangan air di sepanjang trotoar Pasar Senen. Rian, seorang mahasiswa tingkat akhir yang kepalanya penuh dengan revisi skripsi dan sisa uang saku yang makin menipis, berjalan tergesa-gesa. Langkahnya terhenti di depan kedai kopi kecil milik Pak Darmo.

Pak Darmo, pria paruh baya dengan senyum yang tak pernah absen, sedang mengelap meja kayu tua di depan kedainya. Di sudut meja itu, duduk seorang anak laki-laki berbaju lusuh, memandangi etalase roti goreng dengan tatapan lapar yang berusaha ia sembunyikan.

Rian memperhatikan anak itu. Ia tahu rasanya lapar dan tak punya cukup uang. Rian meraba saku jaketnya, hanya ada satu lembar uang puluhan ribu tersisa—tambahan modal untuk makan malamnya sendiri.

"Pak Darmo, roti goreng dua sama kopi hitam satu, ya," kata Rian sambil menyerahkan uangnya.

Ketika pesanan siap, Rian tidak mengambil roti itu untuk dirinya sendiri. Ia berjalan mendekati anak laki-laki tadi, menyodorkan kantong kertas berisi roti hangat, lalu tersenyum tipis sebelum berjalan pergi begitu saja tanpa menunggu ucapan terima kasih.

Anak laki-laki itu—namanya Doni—tertegun. Roti goreng hangat itu adalah makanan pertama yang masuk ke perutnya sejak kemarin malam. Bau karamel dan gurihnya roti tidak hanya mengenyangkan perutnya yang kosong, tetapi juga menyalakan sesuatu yang hangat di dadanya: rasa peduli.

Dua Puluh Tahun Kemudian...

Sebuah gedung pencakar langit beroperasi penuh di pusat Jakarta. Di ruangan komisaris utama, seorang pria berusia 30-an bertuksedo rapi sedang menatap dokumen proposal bisnis. Pria itu adalah Doni, pemilik anak perusahaan teknologi terbesar yang baru saja berkembang pesat.

Siang itu, Doni sedang meninjau kandidat untuk posisi Direktur Operasional. Dari puluhan berkas yang masuk, ada satu resume yang menarik perhatiannya. Nama pelamarnya: Rian Pratama.

Pada sesi wawancara, Rian—yang kini sudah berkepala empat dengan rambut yang mulai memutih—tampak gugup. Setelah krisis ekonomi beberapa tahun lalu, usahanya gulung tikar, dan ia berjuang keras dari nol untuk menghidupi keluarganya.

Doni membaca berkas Rian dengan saksama, lalu menatap mata pria di depannya.

"Pak Rian," buka Doni dengan suara tenang. "Pengalaman Anda luar biasa. Tapi saya ingin bertanya satu hal di luar CV ini. Apakah Anda pernah membeli roti goreng untuk seorang anak kecil di depan kedai kopi tua, sekitar dua puluh tahun lalu?"

Rian mengerutkan kening, berusaha mengingat-ingat masa mudanya yang penuh perjuangan. "Saya... saya sering membeli kopi di sana sewaktu kuliah, Pak. Kalau soal roti... saya kurang ingat persisnya, tapi mungkin pernah."

Doni tersenyum tipis. Ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah bungkus kertas tua yang sudah dilaminasi rapi—bekas pembungkus roti goreng puluhan tahun lalu yang selalu ia simpan sebagai pengingat dari mana ia berasal.

"Anak kecil yang Anda beri roti hari itu adalah saya, Pak Rian," ujar Doni. "Hari itu, saya hampir menyerah pada hidup. Tapi kebaikan kecil Anda membuat saya percaya bahwa dunia ini masih punya harapan. Sejak hari itu, saya berjanji pada diri sendiri untuk belajar giat dan berhasil, agar suatu hari saya bisa membagikan kebaikan yang sama."

Rian terpaku, matanya berkaca-kaca. Ia bahkan tidak pernah mengingat kebaikan kecil yang dilakukannya secara spontan puluhan tahun lalu.

"Selamat, Pak Rian. Anda tidak hanya diterima di perusahaan ini," kata Doni sambil berdiri dan mengulurkan tangannya. "Anda adalah alasan perusahaan ini ada hari ini."

Pesan Moral: Kebaikan tidak pernah diukur dari seberapa besar nilainya, melainkan dari ketulusannya. Satu tindakan kecil yang kita anggap sepele hari ini, bisa jadi adalah penentu masa depan orang lain di kemudian hari.

 

 

Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar!

  1. Apa tema ceritanya?
  2. Siapa tokoh dan bagaimana watak tokoh yang ada pada cerita?
  3. Dimana latar ceritanya?
  4. Apa amanat yang terdapat dalam cerita tersebut?
  5. Apa yang bisa kalian contoh dalam kehidupan sehari-hari dari cerita tersebut?

 

Share to :
Kirim Pesan