Literasi Spenduga Membaca (Kriuk Ayam MBG di Tengah Pelajaran Matematika) Rabu, 23 September 2026
Kriuk Ayam MBG di Tengah Pelajaran Matematika
Matahari sedang terik-teriknya di atas SMP Negeri Nusantara, tetapi udara di dalam kelas 8-B mendadak panas dingin. Bukan karena AC mati, melainkan karena aroma luar biasa gurih yang tiba-tiba menusuk hidung seluruh penghuni kelas.
Hari itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) baru saja dibagikan. Di atas meja kayu masing-masing murid, berjejer wadah sekat stainless steel yang masih hangat. Menunya hari ini sungguh tidak main-main: nasi putih pulen, ayam goreng krispi berlapis bumbu gurih, tumis buncis bakso yang segar, sepotong buah semangka merah merekah, dan sekotak susu putih murni.
Pak Budi, guru Matematika yang terkenal paling tegas se-kecamatan, berdiri di depan papan tulis. Tangan kanannya memegang kapur, sementara mata tajamnya menyapu seluruh ruangan.
"Anak-anak, buka buku paket halaman 45. Kita selesaikan soal persamaan linear dua variabel ini dulu. Setelah bel jam ketiga berbunyi, baru kalian boleh makan bersama," tegas Pak Budi.
Sebagian besar murid mengangguk patuh, meski dengan berat hati. Namun, bagi Bimo yang duduk di pojok belakang dekat jendela, perintah itu terdengar seperti siksaan tanpa akhir. Sejak pagi Bimo belum sempat sarapan karena bangun kesiangan dan harus berlari mengejar angkot. Cacing di perutnya sudah menyanyikan lagu rock dengan volume maksimal.
Bimo melirik ke arah wadah MBG-nya. Ayam goreng krispi itu seolah-olah tersenyum padanya, melambaikan tangan, dan berbisik, "Makan aku sekarang, Bimo..."
"Gak bisa," bisik Bimo pada dirinya sendiri. "Pak Budi galak banget. Bisa-bisa disuruh berdiri di depan kelas sampai pulang."
Namun, ketika Pak Budi berbalik membelakangi kelas untuk menuliskan rumus panjang di papan tulis, pertahanan Bimo runtuh. Dengan gerakan secepat kilat dan sepelan beruang merayap, Bimo membuka tutup wadahnya sedikit saja. Tangan kirinya menjangkau ke dalam, memotong sedikit bagian kulit ayam yang paling renyah, lalu melemparnya cepat ke dalam mulut.
Kriuk!
Bimo membeku. Suara renyah kulit ayam itu terasa memekakkan telinga di dalam kelas yang hening.
Pak Budi berhenti menulis. Beliau perlahan memutar badannya. Matanya memicing, menatap tajam ke arah sudut belakang.
"Suara apa itu?" tanya Pak Budi pelan namun penuh selidik.
Seluruh kelas menahan napas. Bimo menyembunyikan wajahnya di balik buku Matematika yang dibuka lebar-lebar. Mulutnya sama sekali tidak berani mengunyah. Kulit ayam yang gurih itu dibiarkan mengambang di atas lidahnya, menahan napas agar pipinya tidak terlihat kembung.
"Tidak ada yang makan sebelum bel, kan?" lanjut Pak Budi seraya melangkah pelan melewati lorong antarmeja.
Langkah kaki Pak Budi makin mendekati meja Bimo. Bimo makin berkeringat dingin. Jika dia mengunyah sekarang, suara kriuk pasti akan terdengar lagi. Tapi jika tidak dikunyah, minyak ayam itu mulai meleleh dan membuatnya ingin sekali menelan!
Kruuukkk...
Tiba-tiba, suara nyaring lain terdengar. Kali ini bukan suara mengunyah, melainkan suara perut kosong yang berbunyi sangat keras. Uniknya, suara itu bukan berasal dari perut Bimo, melainkan dari meja di depannya—meja milik Rendy, sang ketua murid.
Rendy memegangi perutnya sambil tersenyum meringis, wajahnya memerah karena malu. "Maaf, Pak Budi... perut saya yang berbunyi. Bau ayam gorengnya terlalu wangi, Pak," aku Rendy jujur.
Seketika, gelak tawa pecah di seluruh kelas 8-B. Suasana yang tadinya tegang bagai medan perang langsung mencair begitu saja. Pak Budi yang tadinya pasang muka kaku, akhirnya tak sanggup menahan senyum. Beliau menggeleng-gelengkan kepala melihati murid-muridnya yang memang sudah memandangi wadah MBG dengan tatapan lapar.
Teng! Teng! Teng!
Bel jam ketiga yang ditunggu-tunggu akhirnya berbunyi.
Pak Budi meletakkan kapurnya dan menepuk tangan dua kali. "Ya sudah, ya sudah. Dari pada konsentrasi kalian buyar gara-gara aroma ayam goreng, sekarang rapikan buku kalian!"
"Horeeee!" seru seluruh murid kompak.
"Eits, tunggu dulu," potong Pak Budi. "Sebelum dibuka wadahnya, mari kita berdoa dulu. Rendy, pimpin doanya."
Setelah doa bersama selesai diucapkan, ruangan kelas 8-B langsung dipenuhi suara kluntingan sendok dan tawa riang. Bimo menghela napas lega yang sangat panjang, lalu akhirnya berani mengunyah potongan ayam yang sempat 'tertunda' di dalam mulutnya. Rasa gurih dan renyahnya terasa makin nikmat dari biasanya.
"Enak banget ya, Bim! Bumbunya meresap sampai ke dalam," ujar Rendy sambil melahap tumis buncisnya dengan lahap.
"Iya, Ren. Asli enak banget," jawab Bimo sambil tersenyum lebar, bersyukur MBG hari ini tidak hanya mengenyangkan perutnya yang kosong, tetapi juga menyelamatkannya dari 'hukuman' Matematika.
Kerjakan soal-soal di bawah ini dengan benar!
- Bagaimana cara Rendy menyelesaikannya secara tidak sengaja sehingga Bimo terbebas dari kecurigaan Pak Budi?
- Mengapa Bimo membeku dan tidak berani mengunyah makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya?
- Bagaimana perubahan suasana di kelas 8-B dari sebelum hingga sesudah bel jam ketiga berbunyi?
- Nilai atau pelajaran apa yang bisa dipetik dari sikap jujur Rendy saat perutnya berbunyi di depan Pak Budi?
Share to :
SMP NEGERI 23 BALIKPAPAN